Semua cerita ini sebenarnya dimulai dua hari sebelum keberangkatan. Kami memilih Desa Dolago sebagai lokasi pengamatan karena salah satu anggota Spilornis akan melaksanakan KKN di sana. Selain itu, berdasarkan informasi yang kami dapatkan, kawasan tersebut memiliki potensi yang cukup baik untuk kegiatan pengamatan burung.
Awalnya semua sudah tersusun rapi. Rencananya kami akan berangkat dari Palu pada Sabtu, 30 Mei 2026 pukul 07.00 pagi. Pengamatan burung air dijadwalkan pada sore hari, sedangkan pengamatan burung darat akan dilakukan Minggu pagi.
Namun, seperti kebanyakan rencana lapangan mahasiswa, kenyataan tidak selalu berjalan sesuai skenario.
Sehari sebelum keberangkatan, muncul informasi di grup kelas bahwa akan ada praktikum pada Sabtu pagi mulai pukul 08.00 sampai selesai. Jadwal yang tadinya sudah kami susun langsung berubah. Saya kemudian menghubungi Azhar selaku koordinator pengamatan burung air.
“Azhar, bagaimana ini? Jadi tidak kita berangkat besok?”
“Menurutmu bagaimana?”
“Kalau berangkat jam 10 masih bisa sih.”
“Oke, tanya dulu siapa saja yang bisa ikut. Nanti kumpul sesuai titik.”
Setelah praktikum selesai, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, sementara perlengkapan keberangkatan bahkan belum sempat dipersiapkan. Akhirnya kami mulai melakukan packing setelah praktikum berakhir.
