Sabtu, 06 Juni 2026

DOLAGO: ANTARA PENGAMATAN BURUNG, JALAN TERSESAT, KRESEK YANG DIKIRA BURUNG, DAN WARUNG “SERBA 10 RIBU”

Semua cerita ini sebenarnya dimulai dua hari sebelum keberangkatan. Kami memilih Desa Dolago sebagai lokasi pengamatan karena salah satu anggota Spilornis akan melaksanakan KKN di sana. Selain itu, berdasarkan informasi yang kami dapatkan, kawasan tersebut memiliki potensi yang cukup baik untuk kegiatan pengamatan burung.

Awalnya semua sudah tersusun rapi. Rencananya kami akan berangkat dari Palu pada Sabtu, 30 Mei 2026 pukul 07.00 pagi. Pengamatan burung air dijadwalkan pada sore hari, sedangkan pengamatan burung darat akan dilakukan Minggu pagi.

Namun, seperti kebanyakan rencana lapangan mahasiswa, kenyataan tidak selalu berjalan sesuai skenario.

Sehari sebelum keberangkatan, muncul informasi di grup kelas bahwa akan ada praktikum pada Sabtu pagi mulai pukul 08.00 sampai selesai. Jadwal yang tadinya sudah kami susun langsung berubah. Saya kemudian menghubungi Azhar selaku koordinator pengamatan burung air.

“Azhar, bagaimana ini? Jadi tidak kita berangkat besok?”

“Menurutmu bagaimana?”

“Kalau berangkat jam 10 masih bisa sih.”

“Oke, tanya dulu siapa saja yang bisa ikut. Nanti kumpul sesuai titik.”

Setelah praktikum selesai, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, sementara perlengkapan keberangkatan bahkan belum sempat dipersiapkan. Akhirnya kami mulai melakukan packing setelah praktikum berakhir.

Menariknya, ketika semua sudah berkumpul di titik kumpul, ternyata masih ada saja yang belum siap.

“Ada yang lupa bawa jas hujan?”

“Hadir.”

“Ada yang lupa bawa powerbank?”

“Hadir.”

“Ada yang lupa bawa tally sheet?”

“Hadir juga.”

Sampai di titik itu kami mulai bertanya-tanya, sebenarnya yang dipersiapkan dari kemarin itu apa?

Untung saja tidak ada yang lupa membawa motor.

Setelah semua perlengkapan siap dan anggota tim sudah berkumpul, kami akhirnya benar-benar berangkat sekitar pukul 13.30.

Perjalanan dari Palu menuju Dolago memakan waktu lebih dari tiga jam. Setibanya di sana, kami langsung menemui kepala desa untuk meminta izin sekaligus menanyakan jalur menuju kawasan hutan yang akan menjadi lokasi pengamatan. Menurut informasi yang diberikan, jaraknya sekitar dua kilometer dari desa.

Terdengar dekat, memang.

Masalahnya, di tengah perjalanan kami lupa nama jalan yang disebutkan oleh kepala desa. Akibatnya, kami sempat berputar-putar cukup lama mencari arah yang benar.

“Yakin ini jalannya?”

“Google Maps bilang lurus.”

“Tapi ini sudah masuk kebun orang.”

“Berarti Google Maps juga sedang belajar.”

Di titik lain kami kembali berhenti.

“Ini betul?”

“Tidak tahu.”

“Terus kenapa masih jalan?”

“Karena kalau berhenti kita juga tetap tidak tahu.”

Setelah beberapa kali salah jalan dan bertanya kepada warga sekitar, akhirnya seorang bapak memberi petunjuk yang sangat sederhana.

“Pokoknya ikuti saja jalan tanah yang paling jelek.”

Anehnya, petunjuk tersebut justru menjadi petunjuk paling akurat sepanjang perjalanan. Tidak ada satelit, tidak ada sinyal, hanya kepercayaan kepada bapak-bapak desa.

Akhirnya kami berhasil menemukan lokasi hutan sekitar pukul 17.30.

Karena hari sudah menjelang malam, pengamatan burung air yang direncanakan sore itu terpaksa dibatalkan. Kami memutuskan untuk menggantinya pada Minggu sore. Prioritas utama saat itu adalah mendirikan tenda sebelum hari benar-benar gelap.

Malam harinya berlangsung cukup santai. Setelah membersihkan diri, kami memasak makan malam bersama sambil sesekali berdiskusi mengenai strategi pengamatan untuk esok hari.

Namun seperti biasa, diskusi mahasiswa lapangan tidak pernah benar-benar fokus.

Lima menit pertama membahas metode transek.

Sepuluh menit berikutnya membahas burung target.

Lima belas menit setelah itu sudah membahas siapa yang paling sering terlambat saat kumpul.

Dan setengah jam kemudian topik diskusi berubah menjadi teori konspirasi mengapa sinyal selalu hilang ketika sedang dibutuhkan.

Setelah puas berdiskusi hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan pengamatan, kami akhirnya tidur untuk memulihkan tenaga.

Keesokan harinya, Minggu 31 Mei 2026, kami memulai aktivitas sejak pukul 06.00 pagi. Setelah sarapan sederhana, kami bersiap melakukan pengamatan burung darat menggunakan metode transek.

Rute pengamatan membawa kami melewati area perkebunan warga menuju kawasan hutan. Di beberapa titik kami harus menyeberangi aliran sungai untuk mencapai lokasi yang lebih tinggi dan dianggap memiliki potensi perjumpaan burung yang lebih baik.

Semangat pagi itu sedang tinggi-tingginya. Semua mata fokus ke tajuk pohon dan semua telinga siaga mendengarkan suara burung.

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

“Itu burung apa?”

Seketika semua mengangkat teropong.

“Mana?”

“Itu, yang hitam.”

Semua memperhatikan dengan serius.

Beberapa detik kemudian seseorang berkata pelan,

“Itu bukan burung.”

“Lalu apa?”

“Itu kresek.”

Dan benar saja, objek yang sedari tadi diamati dengan penuh semangat ternyata hanyalah kantong plastik hitam yang tersangkut di ranting pohon.

Sejak saat itu muncul aturan tidak tertulis.

Sebelum menyebut jenis burung, pastikan dulu bahwa objek yang dilihat memang makhluk hidup.

Sepanjang perjalanan berikutnya selalu muncul pertanyaan yang sama.

“Itu burung atau kresek?”

Dan entah kenapa, pertanyaan tersebut jauh lebih sering muncul daripada identifikasi jenis burung itu sendiri.


Di sela-sela perjalanan, kami menyempatkan diri beristirahat di pinggir sungai. Momen itu sekaligus dimanfaatkan untuk mengambil dokumentasi. Suasana alam yang masih asri membuat rasa lelah selama perjalanan seakan terbayar.

Pengamatan pagi selesai sekitar pukul 10.00. Setelah itu kami kembali ke lokasi perkemahan untuk berkemas dan bersiap menuju masjid. Sekitar pukul 12.30 kami tiba di masjid, membersihkan diri, lalu beristirahat sambil menunggu waktu pengamatan berikutnya.

Pukul 15.30 kami bergerak menuju lokasi pengamatan burung air yang berada di kawasan mangrove Desa Dolago, tepatnya di sekitar Jembatan Dolago. Lokasi ini cukup menarik karena merupakan pertemuan beberapa tipe habitat sekaligus, yaitu hutan mangrove, tambak ikan, persawahan, dan muara sungai.

Karena seluruh habitat tersebut saling berdekatan, kami menggunakan metode point count. Dari satu lokasi, kami dapat mengamati berbagai jenis burung yang memanfaatkan habitat yang berbeda-beda.

Pengamatan berlangsung hingga sekitar pukul 16.20. Setelah semua data terkumpul, kami segera bersiap kembali ke Palu.

Dan di sinilah cerita paling legendaris dari perjalanan ini dimulai.

Tidak jauh dari Jembatan Dolago, hujan turun cukup deras sehingga kami memutuskan singgah di sebuah rumah makan yang memasang spanduk besar bertuliskan:

SERBA RP 10.000

Sebagai mahasiswa yang sangat memahami arti penting penghematan, tulisan itu langsung memberikan ketenangan batin.

Tanpa pikir panjang kami memesan tujuh porsi makanan.

Setelah makanan datang, suasana berubah menjadi seperti orang yang sudah tiga hari tidak bertemu nasi.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada diskusi.

Yang terdengar hanya suara sendok dan piring.

Setelah selesai makan, kami berjalan menuju kasir dengan penuh percaya diri.

Dalam kepala kami, perhitungan sudah selesai.

Tujuh porsi dikali sepuluh ribu.

Aman.

“Dek, totalnya seratus lima ribu ya.”

Kami semua diam.

Suasana yang tadinya ramai mendadak hening seperti sedang melakukan point count.

Titan yang sedari tadi paling semangat menambah sambal menjadi orang pertama yang bereaksi.

“Hah?” (terhitung tiga butir nasi lepas kontrol dari mulut)

“Maaf Bu,” kata Azhar, “bukannya tadi serba sepuluh ribu?” (sambil menyeka nasi yang hampir lepas kontrol)

Ibu penjual tersenyum santai.

“Iya Dek, hehe.”

“Jadi ini?”

“Yang itu lima belas ribu.”

Tidak ada yang mampu membalas argumentasi tersebut.

Kami hanya saling memandang dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

Kalimat “serba sepuluh ribu” ternyata memiliki makna yang lebih filosofis daripada yang kami bayangkan.

Untung saja Andini masih memiliki sisa saldo kehidupan berupa uang cadangan

Jika tidak, mungkin kami harus mencuci piring sambil menjelaskan metode point count kepada pemilik warung sebagai bentuk pembayaran alternatif.

Hujan masih belum reda ketika kami melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 17.00 kami tiba di Toboli dan sempat berhenti di SPBU untuk mengisi bahan bakar.

Memasuki kawasan Kebun Kopi, suasana berubah cukup dramatis. Kabut tebal mulai turun, suhu udara semakin dingin, dan jarak pandang menjadi terbatas.

Di depan hanya terlihat lampu kendaraan beberapa meter.

Di belakang hanya terdengar suara teman yang sesekali bertanya,

“Masih hidup semua kah?”

“Hidup.”

“Oke lanjut.”

Meski demikian, perjalanan berlangsung lancar. Setelah melewati berbagai tikungan, hujan, kabut, jalan tersesat, kresek yang dikira burung, dan trauma warung serba sepuluh ribu, kami akhirnya tiba kembali di Palu sekitar pukul 19.30.

Perjalanan ditutup di Bundaran Untad, tempat kami berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing.

Bagi sebagian orang, kegiatan ini mungkin hanya sekadar pengamatan burung. Namun bagi kami, perjalanan ke Dolago menghadirkan lebih dari sekadar data lapangan. Ada cerita tentang rencana yang berubah mendadak, perjuangan mencari lokasi di tengah kebingungan arah, kebersamaan di bawah tenda, identifikasi kresek sebagai satwa liar, hingga pelajaran berharga bahwa tulisan “serba 10 ribu” tidak selalu berarti semua menu benar-benar berharga 10 ribu.

Karena pada akhirnya, data pengamatan mungkin akan masuk ke laporan. Tetapi cerita-cerita receh yang terjadi di lapangan akan selalu menjadi bagian yang paling sering dikenang dan diceritakan kembali.

(Fatih dan Andini)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar