Sabtu, 06 Juni 2026

DOLAGO: ANTARA PENGAMATAN BURUNG, JALAN TERSESAT, KRESEK YANG DIKIRA BURUNG, DAN WARUNG “SERBA 10 RIBU”

Semua cerita ini sebenarnya dimulai dua hari sebelum keberangkatan. Kami memilih Desa Dolago sebagai lokasi pengamatan karena salah satu anggota Spilornis akan melaksanakan KKN di sana. Selain itu, berdasarkan informasi yang kami dapatkan, kawasan tersebut memiliki potensi yang cukup baik untuk kegiatan pengamatan burung.

Awalnya semua sudah tersusun rapi. Rencananya kami akan berangkat dari Palu pada Sabtu, 30 Mei 2026 pukul 07.00 pagi. Pengamatan burung air dijadwalkan pada sore hari, sedangkan pengamatan burung darat akan dilakukan Minggu pagi.

Namun, seperti kebanyakan rencana lapangan mahasiswa, kenyataan tidak selalu berjalan sesuai skenario.

Sehari sebelum keberangkatan, muncul informasi di grup kelas bahwa akan ada praktikum pada Sabtu pagi mulai pukul 08.00 sampai selesai. Jadwal yang tadinya sudah kami susun langsung berubah. Saya kemudian menghubungi Azhar selaku koordinator pengamatan burung air.

“Azhar, bagaimana ini? Jadi tidak kita berangkat besok?”

“Menurutmu bagaimana?”

“Kalau berangkat jam 10 masih bisa sih.”

“Oke, tanya dulu siapa saja yang bisa ikut. Nanti kumpul sesuai titik.”

Setelah praktikum selesai, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, sementara perlengkapan keberangkatan bahkan belum sempat dipersiapkan. Akhirnya kami mulai melakukan packing setelah praktikum berakhir.

Selasa, 21 Januari 2025

PERJALANAN MENYUSURI KEINDAHAN PULAU PELING BANGGAI KEPULAUAN

 

Sedikit melangkah keluar dari hiruk-pikuk perkotaan, kami menuju kawasan kepulauan yang dikenal dengan nama Pulau Peling atau lebih akrab disebut Banggai Kepulauan. Bersama Anggota Burung Indonesia, Mas Jihad, perjalanan kami dimulai dari Kota Palu menuju Kota Luwuk, Kabupaten Banggai. Perjalanan darat ini memakan waktu sekitar 13 jam.

Dalam perjalanan, kami menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak di Cagar Alam Pangi-Binangga, yang oleh masyarakat setempat sering disebut "Kebun Kopi." Saat istirahat, salah satu anggota kami melihat burung endemik Sulawesi, Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix), melintas di atas kepala kami sekitar pukul 16.00 WITA. Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), status konservasi burung ini adalah rentan (vulnerable). Julang Sulawesi juga dikenal sebagai "Petani Hutan" karena kebiasaan makan biji-bijian yang kemudian tersebar melalui fesesnya, membantu regenerasi hutan secara alami. Unik, bukan? Ribuan hektare hutan yang tumbuh bisa jadi merupakan hasil kerja keras burung ini.

Setelah beberapa menit istirahat, kami melanjutkan perjalanan melewati pegunungan di kawasan Cagar Alam Pangi-Binangga. Kami melihat sekelompok Monyet Hitam Tonkean (Macaca tonkeana) berkumpul di pinggir jalan. Spesies ini juga endemik Sulawesi. Sayangnya, terganggunya habitat telah memaksa mereka mendekati jalan raya, di mana masyarakat sering memberi makan berupa roti, pisang, biskuit, kacang, dan makanan khas seperti lalampa. Kebiasaan ini membuat monyet kehilangan insting alaminya untuk mencari makanan sendiri dan semakin bergantung pada manusia. Meskipun terdapat papan peringatan untuk tidak memberi makan, aturan ini sering diabaikan oleh para pengguna jalan. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi pihak terkait untuk lebih proaktif menjaga keberlangsungan hidup satwa liar di Cagar Alam Pangi-Binangga.

Sabtu, 11 Mei 2024

MONITORING BURUNG DI PANEKI

 

Mumpung ada waktu libur dua hari, Divisi Burung darat dan Burung air KPB Spilornis kembali mengadakan pengamatan burung rutin pada tanggal 09 Mei 2024. Pengamatan kali ini diikuti oleh Putra, Yoan, Nono, Zaid, Dini dan Ayahu. Setelah mempersiapkan peralatan pengamatan (buku catatan individu, binokuler dan buku panduan serta kamera) tim langsung tancap gas dan mulai pengamatan pada pagi hari pukul 06.00 (Mantap. Tim yang disiplin).

Udara pagi hari yang segar seketika menyambut tim selain kicau burung yang mulai terdengar dan beberapa burung terlihat sedang bertengger dan terbang melintasi tim. Dan seperti biasanya kalau pagi hari yang duluan beraktivitas adalah burung Pelanduk Sulawesi (Trichastoma celebense), suara burung ini setia menemani tim di awal pengamatan sebelum burung lainnya beraktivitas. Kehadiran burung ini mulai berkurang menjelang pukul 07.00. hanya terdengar sesekali suaranya yang merdu.

Sabtu, 27 April 2024

HALAL BI HALAL DAN PENGAMATAN BURUNG BERSAMA

Halal bihalal menjadi tradisi yang terus berkembang hingga saat ini.  Halal bi halal juga berkembang menjadi ajang "open house", di mana sebuah rumah atau instansi mengundang orang untuk datang bersilaturahmi. Halal bi halal ternyata memiliki sejarah sendiri di Indonesia. Tradisi ini merupakan tradisi asli Indonesia yang tak dapat ditemukan di negara-negara lain. Nah, seperti apa sejarah Halal bi halal dan apa maknanya? Halal bi halal memang terdengar seperti berasal dari bahasa Arab. Halal bi halal sebenarnya berasal dari kata serapan 'halal' dengan sisipan 'bi' yang berarti 'dengan' (bahasa Arab) di antara 'halal'.  Namun, Halal bi halal sebenarnya bukan berasal dari Arab, melainkan merupakan tradisi yang dibuat di Indonesia. Kata Halal bi halal bahkan sudah dibakukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam KBBI, Halal bi halal berarti hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan dan Idul Fitri, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dan sebagainya) oleh sekelompok orang. Halal bi halal juga diartikan sebagai bentuk silaturahmi. Acara Halal Bihalal ini sungguh merupakan suatu kegiatan yang mana dapat mempererat tali silaturahmi, persaudaraan sehingga terjadi hubungan yang harmonis dan pada akhirnya meningkatkan rasa kesatuan dan kebersamaan.