Jumat, 05 Juli 2019

TERNYATA BURUNG MEMILIKI KEMAMPUAN KOMUNIKASI YANG MIRIP MANUSIA


Cara hewan berkomunikasi telah dianggap sangat berbeda dengan cara manusia berkomunikasi. Namun baru-baru ini seorang peneliti bernama Toshitaka Suzuki dari Universitas Kyoto Jepang menunjukan hasil riset yang menarik, bahwa burung dan manusia ternyata memiliki kemampuan kognitif dalam berkomunikasi yang cenderung sama.
Penelitian tersebut ditempuh berdasarkan kesadaran Suzuki terhadap anggapan umum, bahwa burung menggunakan bentuk bahasa mereka sendiri yang kerap disebut isyarat. Dari situ timbulah pertanyaan, apa yang terjadi dalam pikiran mereka saat mereka berbicara? Mungkinkah bunyi suatu kata dapat membangkitkan gambar dalam benak, seperti yang terjadi pada manusia?
1. Burung memiliki "daya imaji" (Mind's Eye) yang membantu mereka dalam berkomunikasi
Selama beberapa tahun terakhir, Suzuki melakukan serangkaian eksperimen yang menguraikan vokalisasi ( cara berbahasa) burung  jenis Japanase Tits atau Parus Minor, yang masih satu famili dengan burung seperti Chickadees dan Titmice.

BAGI BURUNG, POHON ADALAH SEGALANYA


Di alam, burung dan pohon memiliki hubungan timbal balik menguntungkan. Burung madu, tidak hanya mengambil nektar tetapi juga membantu penyerbukan. Begitu juga dengan rangkong yang mendatangi pohon ficus sekaligus menebarkan biji.
Ketua Forum Pohon Langka Indonesia [FPLI] Tukirin Partomihardjo menuturkan, selain penghasil oksigen dan penyedia air bersih untuk manusia, pohon juga penting bagi kehidupan burung.
“Di alam, burung membutuhkan pohon sebagai tempat bersarang, juga tempat mencari pakan berupa buah, biji, dan serangga. Manfaat lainnya adalah mengatur iklim dan memberikan udara segar,”ujarnya. “Karena burung merupakan salah satu pembentuk hutan, sebagai imbalannya, hutan menyediakan pakan, tempat bersarang, dan, tempat berlindung bagi burung,” lanjut Tukirin.
Di Waifoi, Papua Barat, jenis pohon merbau [Intsia bijuga] dimanfaatkan oleh julang papua [Rhyticeros plicatus] sebagai sarang. Kenapa dipilih? Tingginya 35-50 m, diameter batangnya besar, serta berbunga sepanjang tahun.
Tim patroli binaan BBKSDA Papua Barat dan Fauna & Flora International Indonesia Programme di Waifoi, berhasil mengamati perilaku burung berparuh besar itu. Ada empat sarang yang digunakan julang papua dengan jenis pohon merbau.

Sabtu, 22 Juni 2019

ANDAI BURUNG AIR HILANG, APA YANG TERJADI PADA LINGKUNGAN?


Burung air merupakan jenis burung yang secara ekologis hidupannya bergantung pada lahan basah. Bagaimana kondisinya saat ini?
Ada 197 jenis burung air di Indonesia. Saat Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999 dikeluarkan, hanya 47 jenis yang dilindungi. Kini, bila kita merunut aturan baru Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.92/MENLHK/SEKJEN/KUM.1/8/2018, jumlah yang dilindungi menjadi 108 jenis.
Namun sebaliknya, ada 4 jenis menjadi tidak dilindungi lagi, yaitu kuntul kecil (Egretta garzetta), kuntul sedang (Egretta intermedia), kuntul karang (Egretta sacra), dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis).
Ragil Satriyo Gumilang, Koordinator Asian Waterbird Census Indonesia menjelaskan, kehidupan burung air tidak lepas dari ancaman. Tercatat, 20 indikasi negatif yang mempengaruhi populasi hidupan liar ini.
“Kami mencatat berdasarkan hasil Sensus Burung Air Asia tahun 2017 di Indonesia. Indikasi ancaman paling besar ada di 146 lokasi di 22 provinsi. Perburuan, pestisida, serta limbah domestik masih menjadi penyumbang ancaman utama. Kondisi ini diperparah dengan kerusakan ekosistem lahan basah yang meningkat,” jelasnya.

Sabtu, 21 Juli 2018

DIANGGAP JADI PENYEBAB KELAPARAN, MAO ZEDONG MUSNAHKAN RATUSAN JUTA BURUNG GEREJA


Bencana kemanusiaan seperti kekurangan pangan tentunya umum terjadi dalam sejarah umat manusia. Tetapi dari sekian bencana kemanusiaan yang terjadi tersebut, pendiri Republik Rakyat China (RRC), Mao Zedong memiliki cara ekstrem untuk menangani krisis pangan yang pernah melanda Negeri Tirai Bambu pada 1958. Mantan Ketua Partai Komunis Tiongkok itu memerintahkan pemusnahan burung gereja di seluruh negeri.
Ia menganggap bahwa burung gereja merupakan hama. Mao menilai, burung yang dikenal juga sebagai burung pipit itu terlalu banyak memakan gandum dan membuat warga China kelaparan.  Selain itu, menurutnya burung gereja juga telah menghalangi perkembangan ekonomi Republik Rakyat China.